Social Icons

Pages

Sabtu, 17 Desember 2011

Sejarah Nagari Cupak Kab. Solok Sumatera Barat





SEJARAH NAGARI CUPAK KABUPATEN SOLOK SUMATERA BARAT 
[Image: fvybeg.jpg]

Dahulu kala,sebelm ada nama suaut daerah di kabupaten solok,masyarakat di sana hidup berkelompok-kelompok di suatu daerah tertentu,kelompok tersebut biasanya terdiri dari suku yang sama dan satu garis keturunan.
Cupak merupakan salah satu nagari yang terletak di pusat kabupaten solok,atau terletak di jalan lintas sumatera yang menghubungkan semua jalur provinsi di sumatera.
Cupak merupakan nama yang unik dan keunikan yang di sandanag sebagai nama nagari ini juga memiliki sejarah tersendiri bagi masyarakat itu sendiri.
Nama “Cupak” dibambil dari salah satu peristiwa an terjadi di negeri tersebut,begini ceritanya .
Dahulu kala terdengarlah kabar bahwa ada sekelompok suku di daerah barat kabupaten tersebut ingin menebang sebatang bambu,hal tersebut di dengar oleh sekelompok suku yang berada di sebelah timur daerah tersebut
Bambu yang akan di tebang atau diambil tersebut berada di daerah yang memiliki kemiringan yang tinggi yang mana di lereng tersebut lah tinggal kelompok tertentu,ketika dari suku yang tinggal di atas bukit menebang bambu,ketika menebang bambu, bambu tersebut terpotong namun bagian yang berhasil di ambil tersebut terguling ke bawah sehinnga warga yang tinggal di lereng bukit segera mangambilnya dan membuat sesuatu yang berbentuk bulat seperti tabung yang di gunakan untuk menentukan perhitungan dalam menghitung beras,yang bentuknya itu seperti silinder atau tabung,sehingga terbentuklah bulatan yang mereka sebut dengan cupak,karena tempat yang didiami tersebut belum ada nama,maka mereka menyepakati memberi nama tempat tinggal mereka dengan cupak,sedangkan bambu yang tinggal di lereng bukit tadi tergantung dan tidak jatuh ke bawah ,diambil oleh suku yang menebang bambu tadi,yang mereka menyebut bambu tersebut dengan batang suri,karena batang tersebut tergantung dan melayang-layang maka mereka menyebutnya dengan gantung suri,karena terpeleset dalam menyebutkan hal tersebut,sehingga tersebutlah dengan gantung ciri.
Banyak simpang siur cerita yang terjadi di masyarakat,karena banyak sumber yang mengatakan dengan cerita yang berbeda-beda,sehingga penulis mengambil cerita dari sumber yang paling bisa untuk di jadikan bukti yang meyakinkan tentang asal-usul nama daerah ini yaitu dari orang tua-tua yang ada di daerah ini yang banyak mengetahui tentang sejarah tersebut.

Tambo Nagari Cupak


Suku yang pertama menempati Cupak adalah suku melayu dan suku sikumbang yang datang dari Luhak Tanah Datar. Awalnya mereka bermukim di Sawah XIV, di selatan nagari Koto Baru sekarang. Dari Sawah XIV mereka terus menyebar ke Sawah Laweh dan Air Angek Gadang. Terus berlanjut hingga Tanjung Limau Purut. Disinilah akhirnya mereka mendirikan kerajaan Tanjung Limau Purut.

Raja mereka bergelar Tuanku Rajo Disambah, kalau tidak salah gelar ini sama dengan gelar raja di Sungai Pagu.

Kerajaan ini sezaman dengan kerajaan Pariangan, di Padang Panjang. Yang diangkat sebagai raja adalah dari suku Melayu. Mungkin karena mereka mayoritas diantara suku-suku yang ada.

Seorang raja didampingi oleh pembesar yang jumlahnya empat orang yang disebut sebagai Gadang nan Barampek (pembesar yang berempat) yaitu :

Rajo Tuo (melayu)
Rajo Bandaro
Rajo bagindo (melayu)
Rajo Padang (sikumbang).

Di kemudian hari melayu ini diidentifikasi sebagai melayu mudik dan sikumbang dengan sikumbang gadang.

Kemudian menyusul datang suku-suku Jambak, dan melayu tangah. Juga Piliang, melayu sigalabuak, parak laweh dan caniago.

Pada masa terjadinya perpindahan pusat kekuasaan di Luhak Tanah Datar dari Pariangan ke Bungo Satangkai, maka di Tanjung Limau Purut juga terjadi pertukaran kekuasaan dari Tuanku Rajo Disambah ke Datuk Yang Dipatuan disebabkan oleh tidak adanya calon raja dari fihak keluarga Tuanku Rajo disambah.

Maka terjadi perubahan pula pada struktur pemerintaha yaitu dari empat pembesar menjadi dua bendahara plus tiga pembesar yang dikenal dengan Bandaro nan duo gadang nan batigo.

Mereka terdiri dari :

Dt. Bandaro Sati (Caniago)
Dt. Bandaro Kutianyia (Jambak korong Kutianyia)
Dt. Mudo (Piliang)
Dt. Basa (Sikumbang)
Dt. Kayo (Jambak, bukan penghulu)

Tampak disini bahwa kerajaan tidak lagi hanya didominasi oleh suku Melayu melainkan sudah diiisi oleh semua unsur suku yang ada. Namun raja tetap dipegang oleh suku melayu.

Ketika kerajaan Pagaruyung berdiri di Bukit Batu patah menggantikan Bungo Satangkai, maka juga mempengaruhi keadaan politik di Tanjung Limau Purut.

Tanjung Limau Purut kembali diambil alih oleh dinasti Tuanku Rajo Disambah. Pusat pemerintahan juga dipindahkan ke Tumpuk Mudik. Disinilah sejarah nagari Cupak dimulai.

Tanjuang Limau Purut melakukan pemekaran wilayah. Tanjung Limau Purut sendiri selanjutnya disebut sebagai Cupak saja, sesuai fungsinya sebagai Cupak Nan Usali atau Cupak Pusako.

Sementara Air Nanam sebagai Gantang yang kemudian mendirikan Nagari Salayo bersama penduduk Padang Kunik. Penduduk Air Nanam bersama penduduk padang Sabaleh mendirikan Nagari Gantang Suri yang kemudian terkenal dengan nama Gantuang Ciri.

Didalam lembaga adat Tanjung Limau Purut (Cupak) berfungsi sebagai Cupak Galeh (takaran perdagangan), sementara Air Nanam berfungsi sebagai Cupak gantang (ekonomi).

Pada waktu Pagaruyung diperintah oleh DYD (Yang Dipertuan) Tuanku Maharajo Sati, Cupak Pusako berganti nama menjadi Cupak Usali. Dan sudah terdapat 13 suku di nagari Cupak.

Pada masa Raja Tuanku Maharajo Satu yang kedua yaitu Dewang Sari Deowano mengirim Puti Pinang Masak untuk meneruskan keturunan keluarga Tuanku Rajo Disambah.

Puti Pinang Masak adalah putri dari Puti Tabur Urai yang kedua yang sudah dikirim Pagaruyung sebelum ke wilayah Kinari. Suami Puti Tabur Urai adalah Sang Hyang Indo Rajodeo, yang tak lain adalah adik dari Yang Dipertuan Besar Tanah Sang Hyang (Sangiang/Sangir), Sang Hyang Rani Indopuro, permaisuri Raja Pagaruyung Yang Dipertuan Rajo Bagindo (Dewang Ramowano), pendahulu Tuanku Marajo Sati yang kedua.

Pemerintahan Tuanku Rajo Usali

Sebenarnya gelar Tuanku Rajo Usali ini adalah gelar bagi Raja Cupak yang dianugerahkan oleh Raja Pagaruyung tapi Raja yang memerintah Cupak waktu belum mau memakai gelar tsb melainkan masih memakai gelar Tuanku Rajo Disambah. Kemudian salah seorang anak dari Puti Pinang Masak yang menikah dengan putri Raja Cupak baru memakai gelar Tuanku Rajo Usali yang pertama kali walaupun Tuanku Rajo Disambah waktu itu masih hidup. Istri raja Tuanku Rajo usali waktu itu adalah suku Sikumbang. Dan tempat kediamannya dinamai sesuai daerah asal di pagaruyung yaitu Gudam.

Kemudian hari diketahui ada tujuh orang raja penyandang gelar Tuanku Rajo Usali.

sumber : Guests cannot see links in the messages. Please register to forum by clicking here to see links.
(This post was last modified: 11-08-2011 10:07 AM by langkisau.)

0 komentar:

Poskan Komentar